You're My Always Eleanor
By Baeyeollie
.
"Aku gak pernah mengerti."
"Begitu pun, aku."
Tessa menolehkan kepalanya pada si sumber suara, dahinya berkerut meminta penjelasan.
"Jangan ngelantur!" Sentaknya, mendorong pelan bahu pemuda di sampingnya.
"aku tidak, Tess!"
Tessa memutar bola matanya, lantas kembali pada posisi sebelumnya.
"Banyak orang bertemu jodohnya, di masa SMA."
Kini atensi gadis itu benar-benar terpusat padanya. Apalagi setelah mendengar kata 'jodoh' yang terlontarkan.
"Dan atas dasar apa kamu berani mengatakan itu?" Namun Tessa menantang, walaupun ia penasaran tapi ia tidak ingin tertangkap basah olehnya. Setidaknya ia butuh penjelasan lebih rincinya.
"Shin dan Kyeong, mungkin." Tessa mendengus mengejek mendengar jawaban pemuda itu. Benar-benar merusak suasana.
"Itu drama, Rak. Berikan aku fakta!" Desaknya kini.
Rakyan bergerak tidak nyaman, matanya mondar-mandir menatap apapun.
"Baiklah-baiklah, Romeo dan Juliette?"
"Rakyan!"
Rakyan menatap Tessa dengan dahi berkerut, seolah pernyataannya tadi benar adanya.
"Apa? Bukankah legenda Romeo dan Juliette memang ada?"
Tessa benar-benar kesal dibuatnya. Ia mengalihkan netranya dari pemuda berkulit putih susu itu.
"Iya, tapi mereka dangkal, putus asa, kemudian mati." Rakyan terkekeh mendengarnya, sedikit menatap nakal pada Tessa. Senang membuat gadis yang dicintainya jengkel.
"Aku tidak ingin kita menjadi seperti mereka!" Keluh Tessa, membuat Rakyan memutarkan bola matanya malas. Ia mengambil tangan gadis itu dan membelainya lembut.
Rakyan tersenyum, "tapi kita enggak dangkal, putus asa, atau pun mati." Tessa melepaskan tangan darinya, mengusap wajahnya dan menangkupkan wajahnya kepada dua telapak tangannya. Erangan kecil keluar dengan suara yang tertahan.
"Iya, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi di tengah jalan?" Tesaa akhirnya membuka kegelisahannya. Mengakui bahwa ia takut kehilangan pemuda di depannya ini.
Rakyan meraih kembali tangan gadis itu, kini digenggam lebih erat. Netranya tidak lepas dari sosok gadis berambut coklat panjang itu, menatapnya intense namun ada kelembutan di dalamnya.
"Jika kamu mengkhawatirkan masa depan, maka selamanya kamu tidak akan pernah maju. Kamu akan terus tertinggal, bersama impian-impianmu yang bahkan belum kau capai." Rakyan tersenyum melihat dahi Tessa yang berkerut-kerut bingung.
"Sudahlah, intinya apa kamu nerima aku?" Rakyan bertatap gelisah, dia sudah tahu jawabannya, tapi tetap saja akan ada penolakan sekecil apapun persennya.
Sementara Tessa masih terdiam dengan pipi yang semakin memerah.
"Kau tahu sendiri kan jawabannya?"
Rakyan terkekeh, lantas menarik tubuh resmi gadisnya, "i'll take as a yes, then."
-selesai.
◆Terinspirasi dari sinopsis novel eleanor & park
Tidak ada komentar:
Posting Komentar